Bisnis Dahsyat Tahun Ini Maret 2, 2010
Posted by edwinvai in Bisnis.Tags: Bisnis, bisnis dahsyat, Bisnis Online, bisnis praktis, MRR, paket bisnis, paket bisnis online, PLR, praktis
add a comment
Bisnis adalah suatu upaya melakukan transaksi dan operasi massal dengan mengutamakan keuntungan antara berbagai pihak yang berkepentingan di dalamnya. Di era post modernisme ini, sudah bukan rahasia lagi seseorang mampu berbisnis dengan berbagai macam cara dan metode. Di tengah terpuruknya sistem ekonomi dunia dan labilnya dinamika pasar, bisnis menjadi suatu trend tersendiri dalam mempertahankan eksistensi finansial seseorang. Banyak yang cukup beruntung, namun tidak sedikit pula yang rugi akan hal ini.
Saya sendiri sudah lama berkecimpung dalam sebuah pekerjaan institusional yang monoton dan sangat melelahkan. Apalagi dengan bekerja disitu, kemampuan berkreativitas sangat dibatasi dan sulit untuk melakukan proses pengembangan diri. Dan yang pasti, diatur-atur oleh atasan dan dikejar-kejar dateline pembuatan berkas pekerjaan sangatlah menjengkelkan. Untuk sekedar santai sejenak saja sulit, apalagi melakukan aktivitas hobi atau refreshing ke cafe kopi. Sehingga mempengaruhi psikologis dan kepribadian saya. Apalagi ditambah dengan kebutuhan-kebutuhan mendesak keluarga yang kadang tidak menentu, membuat saya harus berpikir keras untuk mengendalikan situasi ini demi keharmonisan dan kebahagiaan keluarga yang lebih baik.
Beranjak dari hal tersebut, saya ingin mengembangkan sebuah ide bisnis yang brilian. Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun surfing di Internet, inilah sebuah gagasan bisnis yang luar biasa. Sebelumnya, saya pernah berbisnis dengan beberapa produk barang dan jasa. Tapi selalu tidak bisa memuaskan hati saya. Sampai saya temukan ini. (lagi…)
Keberadaan Musik, Antara Bisnis dan Idealisme Februari 11, 2010
Posted by edwinvai in Sudut Pandang.Tags: fenomena musik indonesia, musik, musik indonesia
4 comments
Musik sebagai sebuah sajian hiburan sekaligus sarana ekspresi diri, sudah selayaknya mendapat perhatian khusus dari masyarakat. Kepedulian terhadap perkembangan musik sekarang masih terbatas pada persoalan-persoalan pembajakan dan update lagu-lagu baru yang notabene mayoritas bernuansa melayu. Masih sedikit topik-topik diskusi musik yang membicarakan tentang bagaimana menjadi diri sendiri. Dalam sebuah studi kasus pada Seminar Musik di Universitas Diponegoro Semarang baru-baru ini yang dihadiri oleh Glenn Fredly dan sejumlah musisi Indonesia lainnya, lagu-lagu yang menembus angka penjualan di bursa (market leader) adalah Band-Band yang notabene mengusung aliran Musik Melayu dan simple arrangement music.
Masyarakat sebagai konsumen sekaligus target komunikasi pasar tentu sudah pasti mau-mau saja menikmati sebuah sajian hiburan. Karena sudah menjadi hal yang lumrah ketika seseorang sudah gerah dengan hiruk pikuk dunia dan problematika kehidupan, ia akan mencari hiburan, bagaimanapunpun bentuknya. Dalam hal ini, musik Melayu telah berhasil menghibur mereka. Musik di Indonesia sekarang, tambah Glenn, adalah hasil eksperimen pihak label yang menggabungkan unsur musik warna Melayu dengan unsur rasa empati yang diramu dalam lagu yang bernuansa kehidupan anak muda sekarang, dan itu terbukti berhasil. Hal ini tentu saja berdampak pada profit yang optimal walaupun secara tidak langsung telah merubah paradigma pasar serta merusak kualitas musik Indonesia. Dulu, banyak sekali musisi Indonesia yang mengusung idealisme dalam musiknya. Sebut saja Ian Antono, Eet Syahrani, Mus Mujiono, Azis MS, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Dwiki Dharmawan, Harry Toledo, Edo Voodoo, Andra Ramadhan, Andy Franzy dan lain-lain. Namun lagi-lagi fenomena “Ke-melayuan” menghempaskan musik mereka. Sayang memang… (lagi…)
How about being lonely in this life… Mei 4, 2009
Posted by edwinvai in filosofi kehidupan.add a comment

Merenung dan Kesepian
Hari berganti, bulan berlalu,tahun berganti, dan musim bergilir. Manusia kian memenuhi jagad kehidupan ini. Bukannya semakin sedikit, jumlah populasi manusia semakin padat. Dengan kondisi yang demikian ini, seharusnya kehidupan sosial akan semakin membaik. Namun sayang, semakin sesak dunia yang kita diami bersama ini, justru semakin membelokkan cara pandang mereka. Bukan jiwa sosial lagi yang berkembang, namun jiwa individualistis yang berlebihan. Sudah tidak ada lagi kepedulian dalam hal apapun, terutama dalam kemanusiaan. Sikap egosentris yang berlebihan inilah yang akhirnya memunculkan berkurangnya nilai-nilai perdamaian dan kesetiakawanan sosial. Disadari atau tidak, dengan jumlah manusia yang tak habis untuk di hitung ini, kita sebenarnya telah hidup sendiri di dunia ini. Sampai kapan kita akan bertahan sendirian, sampai kapan???
Matinya Revolusi Ideologi Mei 1, 2009
Posted by edwinvai in Ideologi.Tags: Ideologi, islam, Kemanusiaan, revolusi
add a comment

Total Surrender to God
Sejauh manusia menancapkan kuku-kukunya di sudut-sudut peradaban dunia selama berabad abad, selalu ada kebutuhan akan suatu keyakinan. Mulai jaman kegelapan yang dimulai dengan adanya konsep ketuhanan Dewa Ra, manusia sudah berusaha menciptakan suatu paham kepercayaan yang hakekatnya sangat prinsipil sekali. Konsep yang selanjutnya dalam terminologi modern disebut ideologi ini, menuntut adanya pembuktian kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya, dengan berbagai jenis lelaku sosialnya,manusia belajar untuk lebih memahami arti kehidupan. Di tengah-tengah hegemoni sosial yang semakin maju, muncullah nama-nama besar yang menjadi poros tengah pemikiran peradaban pada setiap masa. (lagi…)
Where is my sky April 29, 2009
Posted by edwinvai in filosofi kehidupan.add a comment
Dimana langitku yang selama ini kukenang. Ia telah hilang. Langit yang selalu ada ketika dunia ini damai tanpa gemuruh suara alam yang menolak akan kebrutalan manusia. Alam ini menjerit pedih. Meraung-raung akan anarkisme dan vandalisme yang dilakukan manusia. Langit yang sekarang, hanyalah menjadi saksi bisu arogansi umat manusia yang selalu membuat kesewenang-wenangan di kaki langit ini. Ia terlalu agung untuk menyaksikan kenyataan ini. Terlalu hening untuk bersikap. Juga terlalu suci untuk berang. So, I want my sky. But, where is my sky, yang selalu memberiku ketenangan dan kedamaian saat aku melihatnya. Ternyata jiwaku kini tak mampu lagi untuk melihat indahnya langit, karena kotornya tempat yang aku singgahi ini.

Sebuah Rancangan Maret 2, 2009
Posted by edwinvai in filosofi kehidupan.Tags: dunia batin, filsuf, kehidupan, manusia, rancangan, realita
2 comments

abstraksi
Mengapa air mengalir, mengapa hujan turun ke bumi, mengapa burung terbang di udara, mengapa jantung selalu berdenyut, mengapa manusia bernafas, mengapa Buddha selalu tersenyum, dan mengapa matahari selalu muncul tiap pagi? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan retoris yang pada dasarnya tidak membutuhkan jawaban. Padahal disinilah letak poros dari kehidupan itu terletak. Ya, itulah rancangan kehidupan yang setiap waktu dan setiap detik selalu berjalan sesuai dengan kodratnya tanpa pernah melawan. (lagi…)
Kata kata para bijak Februari 6, 2009
Posted by edwinvai in Kata bijak.Tags: filosofi kehidupan, Kata-kata bijak, kebijakan, wisdom
add a comment
sa wide life horizon
Berikut adalah beberapa kata-kata bijak para tauladan kita yang patut kita renungi:
Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.(Nabi Muhammad SAW)
(lagi…)
THE WORLD IS NOT ENOUGH Februari 4, 2009
Posted by edwinvai in filosofi kehidupan.Tags: dunia, indah, manusia
4 comments

Mawar yang indah dengan duri-duri tajamnya
Sebagai sebuah bentuk dunia yang tak pernah usang oleh zaman, dunia ini adalah sebuah induk semang bagi parasit-parasit yang bernama manusia. Mungkin itu adalah sebuah analogi final untuk mewakili keberadaan manusia di dunia yang penuh dengan keindahan ini. Dimana lagi kita akan menyandarkan diri dan hidup kita jika tidak dengan mengkonsumsi benda-benda keduniaan. Hanya satu hal yang semakin menjadi motivasi manusia – manusia dunia dalam melakukan berbagai macam perilaku kemanusiaan, yaitu kepuasan. Dalam berbagai macam interaksinya, kaum yang merasa dirinya beradab ini selalu menjadikan kepuasan sebagai misi utama dalam berkebudayaan. (lagi…)

