Inklusivitas dan Citra Sang Presiden Mei 5, 2009
Posted by edwinvai in Tokoh.Tags: Barrack Obama
trackback
Beberapa hari yang lalu,

Presiden Unik Amerika
tepatnya Rabu 29 April 2009, terjadi sebuah peringatan akbar di Amerika Serikat. Barrack Husein Obama, presiden terpilih Amerika sangat berapi-api ketika berpidato dalam Pers Conference menyambut 100 hari pemerintahannya. Setelah menyelesaikan pidatonya dengan senyum segar sembari melambaikan tangan, ia kemudian menutup perjumpaan dengan rakyatnya. Semenjak Obama terpilih menjadi Presiden, banyak kalangan yang memprediksi adanya perubahan signifikan dalam sistem kepemerintahan U.S.A. Pada awal kepemimpinannya,dia mengisyaratkan pendekatan kebijakan baru mulai dari isu ekonomi, perubahan iklim, sampai hubungan AS dan Iran. Obama mencoba menggunakan pendekatan dialogìs terhadap negara-negara sahabat maupun negara-negara rivalnya.Kalangan pengamat menilai, masa 100 hari pertama kepemimpinan Obama tersebut menjadi periode yang kreatif di Gedung Putih. Sebab, ia telah menelurkan banyak kebijakan besar, mulai dari penutupan penjara Guantanamo sebagai tempat penyiksaan tersangka teroris dunia, solusi untuk resesi ekonomi, sampai upaya untuk merangkul Kuba. Dengan ekspektasi besar dari masyarakat, Obama telah memberikan harapan bagi rakyat AS dan dunia akan adanya masa depan yang lebih baik. Sosok idola politik Amerika yang masih berumur 47 tahun ini telah menunjukkan kesungguhannya dalam upaya menciptakan perdamaian di dunia Internasional pada umumnya dan Amerika Serikat yang dipimpinnya pada khususnya. Dalam lawatannya keEropa dan Amerika Latin, presiden kulit hitam pertama AS itu mengubah kesan Amerika menjadi negara yang lebih santun. Dibawah pemerintahan Bus sebelumnya, Amerika sangat kental dengan kesan mendikte. Kepada negara-negara Eropa, Presiden ini menyatakan keinginannya untuk mendengarkan pandangan-pandangan mereka. Sementara dalam konferensi
negara-negara Amerika Latin, dia berjabat tangan dengan presiden Venezuela Hugo Chavez yang dikenal sangat anti-Amerika. Namun rintangan dan hubungan yang memanas dengan kubu Republik telah menjadikan permasalahan yang cukup mengganggu, kendati begitu ia berhasil menggolkan paket stimulus ekonomi sebesar 700 miliar dolar AS. Jumlah dana yang fantastis dan terbesar yang pernah dikeluarkan Washington selama ini untuk menghindar dari resesi. Tampaknya negeri Paman Sam itu akan mengalami cerita lain dalam pencitraannya. Dengan membawa falsafah humanisme dan kesetaraan, Obama siap melakoni perannya sebagai Presiden dan Negarawan dengan segala konsekuensinya. Situasi ini memperingatkan kita pada gebrakan 100 hari SBY. Dengan segala janjinya dan ekspektasi besar dari rakyat Indonesia, ia dan kabinetnya berupaya memulihkan kondisi bangsa ini pada waktu itu. Peringatan 100 hari pemerintahan Obama menjadi suatu refleksi tersendiri bagi para pemimpin-pemimpin
negara ini. Nilai sebuah pemerintahan secara otomatis akan naik atau turun berdasarkan citra yang dibangun dihadapan rakyatnya. Tidak salah jika Soekarno yang dijuluki “Singa Podium”, mampu mendongkrak citra kepemimpinannya melalui sistem pemerintahannya yang demokratis dan anti-Amerika. Soehartopun tidak lebih sama. Kebijakan-kebijakannya yang cenderung otoritarian, mampu menciptakan keamanan nasional dan menaikkan citra negaranya di mata negara lain. Walau mendapat kecaman dari berbagai kalangan, ia masih berpegang teguh pada prinsip otorisasinya dan yakin akan mampu mensejahterakan rakyat. Sebenarnya kala itu ia tak sendiri. Di masa sebelumnya, telah banyak presiden yang dengan kebijakan otoritarian mampu meyakinkan rakyatnya akan suatu kesejahteraan. Bahkan cara yang ditempuh lebih ekstrim. Sebut saja nama-nama seperti Mussolini di Italia, Hitler di Jerman, Fidel Castro di Kuba, dan tentunya George W. Bush di Amerika. Sejarah telah mencatat akan ekstrimnya pemikiran dan kebijakan mereka. Dan Soeharto telah disejajarkan dengan mereka. Sementara bagi banyak negarawan menilai Obama lebih kepada jalur leadership yang pernah ditempuh oleh tokoh-tokoh semacam Abraham Lincoln, Akihito, dan SBY. Mainstream pemikiran yang cenderung lebih ke kanan serta sikapnya yang lebih bersahabat dan terbuka, membuat setiap usahanya berjalan mulus. Relevansi kebijakan terhadap situasi juga menjadi penentu perilaku rakyat yang semakin responsif terhadap kehadiran Obama di tahta kepresidenan negara adikuasa ini. Walaupun tetap ada pernyataan tentang tidak adanya perubahan di Amerika dengan Obama atau tidak seperti yang dilontarkan petinggi Al-Qaeda minggu lalu, banyak yang yakin bahwa hal tersebut tidak mengubah niat presiden yang lama mengikuti jejak-jejak ormas Islam di Timur Tengah ini. Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi karena pemikirannya yang semakin menjauhi dominasi liberalisme Amerika. Masa depan
yang lebih cerah, atau mati ditembak secara misterius seperti 2 presiden pendahulunya.
Barangkali berguna penilaian yang agak unik berikut ini
100 Hari Presiden Obama : The Most Expensive President Since 1945
Itulah kesimpulan Grabor Steingart, jurnalis Spiegel yang bertugas di biro Washington DC terkait kinerja 100 hari Presiden Obama. Dalam penilaian Steingart kinerja 100 hari presiden baru ini dicirikan mahal, glamour dan kontradiktif.
Grabor bekerja di majalah berita DER SPIEGEL sejak 1990, reputasinya teruji hingga meraih penghargaan jurnalistik. Bukunya yang paling laris adalah “The War for Wealth: The True Story of Globalization or Why the Flat World Is Broken” yang diterbitkan di Amerika Serikat dan Inggris tahun 2008 oleh McGraw Hill.
Silah kunjung
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/100-hari-presiden-obama-most-expensive.html
wes ta kunjungi win..n ternyata isinya berat2 nih buat dibaca sambil makan gorengan..hahahaha..
Oke thank you banget. kalo gitu besok tak posting isi yang ringan2 kaya kacang, krupuk ma gorengan aja ya he he
win…
ada tugas indexing google nih…
jgn lupa comment nya ^_^
http://sariwangi.wordpress.com – tugas besar information retrieval it telkom 2009/2010
oke bro. Udah tak klik and komen