jump to navigation

Keberadaan Musik, Antara Bisnis dan Idealisme Februari 11, 2010

Posted by edwinvai in Sudut Pandang.
Tags: , ,
4 comments

Musik sebagai sebuah sajian hiburan sekaligus sarana ekspresi diri, sudah selayaknya mendapat perhatian khusus dari masyarakat. Kepedulian terhadap perkembangan musik sekarang masih terbatas pada persoalan-persoalan pembajakan dan update lagu-lagu baru yang notabene mayoritas bernuansa melayu. Masih sedikit topik-topik diskusi musik yang membicarakan tentang bagaimana menjadi diri sendiri. Dalam sebuah studi kasus pada Seminar Musik di Universitas Diponegoro Semarang baru-baru ini yang dihadiri oleh Glenn Fredly dan sejumlah musisi Indonesia lainnya, lagu-lagu yang menembus angka penjualan di bursa (market leader) adalah Band-Band yang notabene  mengusung aliran Musik Melayu dan simple arrangement music.

Masyarakat sebagai konsumen sekaligus target komunikasi pasar tentu sudah pasti mau-mau saja menikmati sebuah sajian hiburan. Karena sudah menjadi hal yang lumrah ketika seseorang sudah gerah dengan hiruk pikuk dunia dan problematika kehidupan, ia akan mencari hiburan, bagaimanapunpun bentuknya. Dalam hal ini, musik Melayu telah berhasil menghibur mereka. Musik di Indonesia sekarang, tambah Glenn, adalah hasil eksperimen pihak label yang menggabungkan unsur musik warna Melayu dengan unsur rasa empati yang diramu dalam lagu yang bernuansa kehidupan anak muda sekarang, dan itu terbukti berhasil. Hal ini tentu saja berdampak pada profit yang optimal walaupun secara tidak langsung telah merubah paradigma pasar serta merusak kualitas musik Indonesia. Dulu, banyak sekali musisi Indonesia yang mengusung idealisme dalam musiknya. Sebut saja Ian Antono, Eet Syahrani, Mus Mujiono, Azis MS, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Dwiki Dharmawan, Harry Toledo, Edo Voodoo, Andra Ramadhan, Andy Franzy dan lain-lain. Namun lagi-lagi fenomena “Ke-melayuan” menghempaskan musik mereka. Sayang memang… (lagi…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.